Posted by: Barly Wicaksono | 20 January, 2011

Sebenarnya Siapa Yang Bodoh?

Wrote @ Stasiun Tawang, Semarang 13.06 PM.

Ketika saya di semarang, banyak berita di tv yang menayangkan tentang ‘jenglot’ yang dianggap sakti oleh masyarakat setempat. Baik yang menemukan maupun yang melihat, percaya bahwa benda tersebut dapat membawa keuntungan tersendiri atau ‘hoki’ jika memiliki benda tersebut.

Jenglot

Jenglot

Yang anda lihat diatas ini, adalah contoh jenglot yang ditemukan oleh Holis (45) asal Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Mayangan (Sumber).

Ternyata setelah ditelusuri oleh kepolisian, terbukti bahwa jenglot ini adalah bangkai ular yang ditambahkan kepala kelelawar dan kemudian diberikan rambut agar terlihat seperti jenglot.Masih banyak lagi penemuan jenglot lainnya yang terbukti palsu.

Sebenarnya alasan pembuat jenglot mengklaim bahwa mereka menemukan jenglot, tidak lain hanya untuk mendapatkan uang dari tiket yang ditarik dari masyarakat jika mereka ingin menyaksikan keberadaan sang jenglot palsu.

Jenglot diklaim dapat memberikan hoki, keberuntungan, kekayaan, dan lain-lain jika anda memilikinya.

Saya rasa kutipan diatas benar adanya, sang pemilik jenglot mendapat keberuntungan karena memiliki jenglot. Keberuntungan tersebut sebenarnya bukan berasal dari kemampuan jenglot tetapi lebih tepat berasal dari “kejelian pemilik jenglot, melihat kebodohan masyarakat yang mudah percaya sesuatu yang dianggap gaib dan menjadikannya keuntungan”.

Hal-hal tentang kepercayaan di Indonesia sudah sangat sensitif, bahkan berita yang ditampilkan di ujung barat Indonesia pun memiliki dampak yang besar terhadap Indonesia bagian lainnya. Hal ini disebabkan kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap hal-hal gaib terlalu kuat.

Yang lebih lucu, kejadian penipuan berkedok penggandaan uang dari orang pintar.

Jika sang korban memiliki tingkat intelejensia yang baik, maka tidak akan cukup mudah tertipu dengan tipuan kelas teri seperti itu. Mengapa saya berkata demikian, sebenarnya hanya cukup 1 kalimat saja untuk menjelaskan kebodohan korban penggandaan uang. Berikut saya jelaskan alasannya:

  1. Jika sang dukun mampu menggandakan uang, mengapa mereka tidak pernah menggandakan uangnya sendiri untuk menjadi kaya? knapa malah nipu?

Dari hal diatas sebenarnya secara logika, kita tidak akan pernah mempercayai orang yang mengaku dapat menggandakan uang sebanyak yang diinginkan. Tetapi korban terlalu bodoh karena mempercayai hal-hal yang tidak masuk logika.

Dan anehnya, korban merasa dirugikan setelah tertipu oleh aksi orang yang mengaku ‘orang pintar’ tersebut.

Dari tulisan diatas, terdapat pertanyaan:

Sebenarnya, siapa yang bodoh?

Sang dukun kah yang pintar, atau korbannya yang bodoh?, atau sang dukun dan korban sama-sama orang bodoh?


Responses

  1. gak da yang pintar,,,,,
    sama2 bodoh ke 2 nya….
    dukun nya bodoh, warga nya juga bodoh,,,,
    jadi jangan menipu lagi dan jangan tertipu lagi..

    • @ Frida :

      Harusnya gitu sih, tapi dukun ga laku klo masyarakatnya pintar…
      so, pintarkan masyarakatnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: